Skip to main content

MANAJEMEN STRATEGIK



Inisiasi 1
Pengeritan, Komponen dan Mazhab Manajemen Stratejik

Manajemen stratejik diartikan sebagai usaha manajerial menumbuhkembangkan kekuatan perusahaan untuk mengkesploitasi peluang bisnis yang muncul guna mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan sesuai dengan visi dan misi yang telah ditentukan.
Komponen pokok manajemen stratejik menurut Pearce dan Robinson adalah (1) Analisis lingkungan bisnis yang diperlukan untuk mendeteksi peluang dan ancaman bisnis; (2) analisis profil  perusahaan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan perusahaan; (3) Strategi bisnis yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan memperhatikan (4)  visi dan misi perusahaan.
Hubungan lingkungan bisnis dan profil perusahaan akan memberikan indikasi akan yang akan dikerjakan (what is possible) dan apa yang diinginkan (what is desired).
1.      Mazhab Lingkungan Bisnis (Environmental school)
2.      Mazhab Sumber Daya (Resource-based school)
3.      Mazhab Manajemen Stratejik Berbasis nilai (value-driven school) yang kemudian berkembang menjadi dua yakni Scientific school (mazhab ilmiah) dan processual school (mazhab berbasis proses dan konteks)

Aliran ini dalam perjalanannya akan berdampak pada masing-masing penyusunan tingkatan strategi di masing-masing organisasi.
 _______________________________________

Pentingnya manajemen strategik bagi perusahaan :

Dengan memperhatikan kaitan yang ada antara tuuan primer perusahaan dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, maka pengertian dan komponen pokok manajemen strategik dapat dirumuskan dengan lebih transparan, seperti terlihat berikut ini.
Manajemen stratejik, dengan demikian, dapat diartikan sebagai usaha menajerial menumbuhkembangkan kekuatan perusahaan untuk mengeksploitasi peluang bisnis yang muncul guna mencapai tujuan perusahaan yang telah ditetapkan sesuai dengan visi dan misi yang telah ditentukan. Pengertian ini juga mengandung implikasi bahwa perusahaan berusaha mengurangi kelemahannya, dan berusaha melakukan adaptasi dengan lingkungan bisnisnya. Pengertian tersebut juga menunjuk bahwa perusahaan berusaha untuk mengurangi efek negatif yang ditimbulkan oleh ancaman bisnis.
Sedangkan komponen pokok manajemen stratejik (Pearce dan Robinson, 1994,2003) adalah; (1) analisis lingkungan bisnis yang diperlukan untuk mendetaksi peluang dan ancaman bisnis; (2) analisis profil perusahaan untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan perusahaan; (3) strategi bisnis yang diperlukan untuk mencapai tujuan perusahaan dengan memperhatikan (4) visi dan misi perusahaan. Hubungan antara lingkungan bisnis dan profil perusahaan memberikan indikasi pada apa yang mungkin dapat dikerjakan (what is possible). Dari sisi posisi perusahaan di pasar dapat diketahui. Sedangkan keterkaitan antara analisis lingkungan bisnis, profil perusahaan, dan visi serta misi perusahaan menunjuk pada apa yang diinginkan (what is desired) oleh pemilik dan manajemen perusahaan.
Lingkungan bisnis menyediakan peluang dan ancaman bisnis. Dengan keunggulan bersaing yang dimiliki yang dibangun melalui usaha menumbuhkan kekuatan perusahaan, peluang bisnis yang tersedia akan dieksploitasi secara optimal.
Berdasar keunggulannya, perusahaan menawarkan nilai produk, yang tidak mudah ditemukan pada produk pengganti. Perusahaan terus berusaha melakukan adaptasi dengan perubahan yang selalu terjadi dalam lingkungan bisnis melalui prinsip adaptasi atau mati (adapt or die), dan jika mungkin perusahaan dalam batas kemampuannya melakukan rekayasa pada lingkungan bisnisnya. Manajemen tidak saja bertanya tentang apa yang harus dilakukan untuk membangun kinerja perusahaan, akan tetapi sampai pada pertanyaan BAGAIMANA STRATEGI TERSEBUT HARUS DIIMPLEMENTASIKAN. Semuanya didasarkan pada dan tidak terlepas dari visi dan misi perusahaan - ideologi, nilai, ajaran, dan rancang bangun masa depan perusahaan.
Dalam praktiknya, komponen strategi bisnis dikerjakan sesuai dengan urutan fungsi pokok manajemen, yakni perencanaan, implementasi, dan pengawasan. Oleh karena itu, secara metodologis, strategi bisnis terdiri dari tiga proses yang saling kait mengait dan tidak terputus, yakni proses perumusan (formulasi), proses implementasi (eksekusi), dan proses pengawasan (pengendalian) strategi. Proses yang terakhir diperlukan untuk memberikan masukan (feedback) bagi proses perencanaan berikutnya. Langkah perencanaan dan evaluasi juga berlaku untuk komponen visi dan misi dan profil perusahaan. Proses manajemen tersebut tidak berlaku untuk komponen lingkungan lingkungan bisnis, karena berada di luar kendali perusahaan.
Komponen manajemen strategik:

Akan tetapi tidak semua aktivitas manajerial menyiapkan faktor internal yang diperlukan untuk mengantisipasi peluang dan ancaman bisnis dapat dikategorikan sebagai keputusan strategis. Ada beberapa syarat tambahan yang diperlukan. Disebut strategis jika keputusan manajerial yang dibuat melibatkan manajemen puncak. Berbeda dengan keputusan pada tingkatkan manajemen yang lain, jenis keputusan ini memiliki implikasi dan ramifikasi yang luas dan berjangka panjang serta mengakibatkan adanya otorisasi penggunaan sumber daya dan dana yang signifikan. Manajemen puncaklah yang sepenuhnya bertanggung jawab pada berhasil tidaknya implementasi manajemen strategik.
Di samping itu, keputusan strategis juga mensyaratkan bahwa eksekusi keputusan tersebut melibatkan sejumlah sumber dana dan daya yang besar. Oleh karena itu, hampir dapat dipastikan bahwa komitmen manajerial yang sudah diputuskan tidak mudah untuk dipindahkan. Kadang kala tidak cukup sekedar dibiayai dari sumber dana internal. Diperlukan tambahan dana dari sumber eksternal. Akibatnya, memiliki dimensi waktu yang panjang. Kinerja, citra, dan keunggulan kompetitif perusahaan yang hendak dibentuk terkait langsung dengan keputusan strategis yang telah dibuat. Dengan kata lain, keputusan manajerial disebut strategis jika keputusan tersebut berorientasi ke masa depan perusahaan. Dengan kapasitas yang dimiliki, manajer berusaha untuk secara ajek memprakirakan apa yang hendak terjadi sebagai dasar pengambilan keputusan. dengan demikian, pasti memperhatikan perubahan lingkungan bisnis. Di saat yang sama, keputusan manajerial tersebut juga menjadi salah satu penentu masa depan perusahaan.

_________________




Comments

Popular posts from this blog

Teori Cuplikan (Sampling)

Salah satu tujuan dalam analisis statistika adalah menjawab pertanyaan desuktif, sesuatu yang dapat kita simpulkan terhadap hasil cuplikan acak, yang sudah kita peroleh dari populasi yang sifat-sifatnya sudah dikenal atau diketahui.
Cuplikan acak adalah cuplikan yang diambil dari sebuah populasi dengan menerapkan prinsip ketika setiap anggota populasi mempunyai kemungkinan yang sama untuk terpilih. Apabila kita sudah memiliki suatu cuplikan acak maka kita mampu membuat pernyataan deduktif; apabila sifat-sifat populasi diketahui maka kita bisa menyatakan sifat-sifat cuplikannya. Pada tingkat yang lebih lanjut, sesudah mampu membuat pernyataan deduktif, diharapkan mampu membuat pernyataan induktif.

Misalkan dikatakan 95% penduduk negara RI yang tinggal di tepi laut, mata pencahariannya adalah nelayan, jika diambil sebuah cuplikan acak dari daerah tepi laut negara RI, pastilah 95% penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan (pernyataan deduktif). Jika situasi di atas dibalik yaitu bi…

KERANGKA DASAR SISTEM-SISTEM MANAJEMEN

Kerangka dasar dari sistem –sistem manajemen merupakan suatu langkah untuk memahami hubungan antara aktivitas-aktivitas manajemen dengan berbagai manfaat yang dapat diperolehnya. Penting sekali memahami kedua macam sistem konseptual dan empiris sebab dengan demikian kita mampu meletakkan dasar yang baik dalam rangka mempelajari pengetahuan Sistem Informasi Manajemen. Sebagai tindak lanjut, kita dapat meletakkan dasar dari klasifikasi dari sistem organisasi dari Sistem Informasi Manajemen.
Mencoba menghubungkan antara Sistem Infoemasi Manajemen dan keputusan makin memperjeles kedudukan dari Sistem Informasi Manajemen dalam organisasi.

Pengertian Sistem Informasi Manajemen

Sistem Informasi Manajemen dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang disusun dengan mempergunakan prosedur-prosedur yang formal, dengan tujuan memberikan informasi yang relevan kepada para manajer baik itu informasi internal maupun informasi eksternal pada seluruh tingkat dan seluruh fungsi organisasi yang bersangkutan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara efektif.
Sistem informasi yang formal makin dirasakan penting keberadaannya apabila operasi perusahaan bertambah besar dan bertambah rumit.