Skip to main content

MANAJEMEN KUALITAS

strategi untuk mencapai kualitas pada perusahaan manufaktur dan perusahaan jasa:
Ada enam konsep yang dapat digunakan untuk menerapkan prinsip-prinsip kualitas pada perusahaan manufaktur maupun jasa, yaitu kepemimpinan yang mampu mendorong dan pelaksanaan prinsip kualitas dengan menyediakan sarana dan prasarana yang mendukung, menekankan pada kepuasan pelanggan, pendekatan yang berdasarkan fakta untuk membuat keputusan, keterlibatan semua pihak untuk mewujudkan prinsip tersebut, menggunakan pendekatan proses (bukan hanya hasil akhir), dan mengadakan perbaikan secara terus menerus dan berkesinambungan.

1. KEPEMIMPINAN
Pemimpin menyusun tujuan dan arah pendirian organisasi, serta menciptakan dan mempertahankan lingkungan internal, dimana orang-orang menjadi terlibat dalam pencapaian sasaran organisasi atau perusahaan tersebut. Pemimpin organisasi, sangat dibutuhkan dalam mengadakan perbaikan atau perubahan. Sementara itu, kualitas, bukan semata-mata merupakan gaya pemimpin, tetapi sistem kualitas akan berjalan bila ada dukungan dan partisipasi pimpinan dan anak buahnya. Kepemimpinan harus didelegasikan ke dalam prinsip-prinsip yang dianut kepada seluruh anggota organisasi atau perusahaan. Oleh karenanya, menjadi pemimpin yang baik pada organisasi yang berorientasi pada kualitas harus mampu memberdayakan seluruh staffnya, untuk menyusun arah dan tujuan organisasi atau perusahaan, yang di dalamnya menyangkut sistem nilai yang diterima bersama dan berorientasi pada kualitas. Mereka juga harus berani memberikan jaminan bahwa strategi, sistem, dan metode yang digunakan untuk membangun pengetahuan, keahlian, dan sikap tersebut konsisten dengan sasaran dan tujuan organisasi atau perusahaan. Selain itu, pemimpin harus mampu mendorong keterlibatan semua pihak dalam continuous quality improvement dengan cara: menyediakan praktek-praktek terbaik yang terdokumentasi dan sistematis, menyediakan penilaian dan peninjauan terhadap proses secara sistematis, menyediakan perbaikan proses secara sistematis, dan bertanggung jawab mempertahankan nilai-nilai yang dimiliki.

2. PELANGGAN
Untuk dapat mendefinisikan pelanggan suatu organisasi atau perusahaan, harus terlebih dahulu mengetahui bagaimana proses produksi terjadi. Dalam organisasi atau perusahaan manufaktur, bagaimana proses produksi dan siapa yang menjadi pelanggan sudah nampak dengan jelas. Untuk organisasi atau perusahaan jasa, terlebih dahulu harus dibuat analogi proses produksi pada perusahaan manufaktur ke dalam proses penyampaian jasa maka pertanyaan selanjutnya barulah mengenai "siapakah konsumen atau pelanggan organisasi atau perusahaan tersebut?". Untuk dapat menguraikan hal tersebut, organisasi atau perusahaan harus dipandang sebagai suatu sistem dari sistem kemasyarakatan. Menurut Chase et al.(1998), perbedaan utama antara industri jasa dengan industri manufaktur adalah dalam industri jasa, pelanggan berperan sebagai konsumen namun sekaligus sebagai input. Hal ini disebabkan hubungan antara pemberi dengan penerima jasa sangat dekat, sehingga interaksi yang langsung tersebut akan mempengaruhi kualitas jasa yang dihasilkan. Sementara, hubungan pelanggan dengan pembuat produk dalam industri manufaktur jauh, sehingga kurang berpengaruh dalam kualitas produk yang dihasilkan. Dari sini dapat dilihat bahwa sebenarnya konsumen dapat digolongkan sebagai input dalam proses penyampaian jasa sekaligus sebagai hasil, yaitu konsumen yang telah memiliki pengetahuan, dapat menyelesaikan masalah, sampai ke tempat tujuan dengan selamat, atau bermalam dengan nyaman, maupun sebagai pelanggan eksternal yanh menikmati secara langsung jasa tersebut.

3. PENDEKATAN YANG BERDASARKAN FAKTA UNTUK MEMBUAT KEPUTUSAN
Keputusan dan tindakan yang efektif pasti didasarkan pada analisis data dan informasi. Kualitas yang berhubungan dengan data harus mencakup kebutuhan konsumen dan seluruh staf, pengendalian proses, pengukuran kinerja, dan nilai-nilai yang akan dirubah, data yang baik dan dapat dipercaya, konsisten, standar, terbaru, akurat, tepat pada waktunya, dan selalu siap tersedia. Seberapa jauh terpercayanya dan konsistensinya data ditentukan oleh kebutuhan akan kualitas yang terdapat dalan pedoman kualitas. Sistem manajemen kualitas didasarkan pada kinerja para staf, kepuasan seluruh staf, data karyawan atau staf, proses produksi atau operasional jasa, jasa atau layanan pendukung, dan seperangkat data lainnya, laporan, pembanding, dan bagaimana data digunakan untuk mencari jalan keluar. Pengukuran yang dilakukan menunjukan informasi berupa angka-angka yang mengkuatitatifkan input, hasil, dan kinerja yang merupakan dimensi dari proses, program, kegiatan, dan pelayanan seluruh organisasi atau perusahaan.

4. KETERLIBATAN SEMUA PIHAK
Semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan organisasi atau perusahaan harus terlibat secara penuh, sehingga kemampuannya bermanfaat bagi keuntungan organisasi atau perusahaan tersebut. Staf atau karyawan, pimpinan dan administrator merupakan aset yang menghasilkan dan mempertahankan modal intelektual dimana kualitas produk atau jasa tersebut dihasilkan. Sistem kualitas menjamin kepercayaan dan keyakinan seluruh staf untuk mewujudkan kualitas produk atau jasa yang lebih baik, sehingga efisiensi dan efektivitas sistwm tersebut memungkinkan seluruh staf mencapai sasaran organisasi atau perusahaan, maupun industri secara umum. Seluruh staf dapat bekerja dengan efektif bila perubahan nilai sesuai dengan tujuan, masih berada pada batas penyimpangan yang minimal atau standar, dan memenuhi semua dokumen yang diperlukan. Sementara itu, efisiensi akan terjadi bila pengetahuan, keahlian, dan sikap atau perilaku mereka berfokus pada sasaran yang dapat terukur, metode-metode yang tepercaya, dan adanya bukti-bukti sasaran, antara lain: seluruh staf mengetahui proses yang terjadi pada organisasi atau perusahaan, seluruh staf yang mempelajari proses pada organisasi atau perusahaan tersebut secara sistematis dapat memperbaikinya, seluruh staf memperbaiki proses akan mampu mengurangi bahkan menghilangkan pemborosan, seluruh staf termotivasi untuk menghilangkan pemborosan, seluruh staf harus berhasil, kegagalan sistem harus diperbaiki, dan sebagainya.
Bukti bahwa organisasi atau perusahaan mendukung seluruh stafnya dapat ditemukan pada perencaan sumber daya manusia yang diturunkan dari sasaran kualitas organisasi atau perusahaan tersebut. Yang direncanakan antara lain meliputi item-item pendukung seperti pengembangan karier, data yang berhubungan dengan karyawan, keterlibatan karyawan dalam perbaikan kualitas, dan tindakan untuk meningkatkan otoritas, tanggung jawab, dan inovasi karyawan. Sedangkan data yang berkaitan dengan karyawan meliputi laporan partisipasi karyawan untuk para staf atau karyawan baru, pelatihan dalam konsep dan metode kualitas, evaluasi sistem dalam organisasi atau perusahaan tersebut, dan program pelayanan dengan teknologi baru.

5. PENDEKATAN PROSES
Proses produksi atau operasional jasa akan tercapai dengan lebih efisien bila hubungan antara kegiatan dan prosesnya dikelola sebagai suatu sistem terpadu. Proses tersebut mengubah nilai-nilai yang masuk pada organisasi atau perusahaan. Sistem kualitas dirancang untuk pengendalian dan perbaikan nilai, yang secara sederhana meliputi: semua pekerjaan atau kegiatan pada organisasi atau perusahaan yang terdiri dari berbagai proses, kegiatan-kegiatan dalam proses pada organisasi atau perusahaan tersebut seringkali berinteraksi satu dengan yang lainnya, semua proses dalam organisasi atau perusahaan tersebut berinteraksi satu dengan yang lain, dan hasil yang dicapai organisasi atau perusahaan tersebut merupakan hasil suatu proses produksi atau operasional jasa.

6.PERBAIKAN TERUS-MENERUS DAN BERKESINAMBUNGAN (CONTINUOUS IMPROVEMENT)
Continuous Improvement dalam proses dan hasil harus merupakan sasaran organisasi atau perusahaan yang bersifat permanen. Perbaikan, terutama dalam sistem kualitas, meliputi dua kriteria, yaitu hasil yang secara terus-menerus meningkat dan biaya yang secara terus-menerus menurun. Berdasarkan teori Edward Deming, proses harus menjadi stabil sebelum diadakan perbaikan. Kedua kriteria ini memerlukan data pada hasil, biaya, stabilitas proses, dan kemampuan proses.

_______________________________________________________________________



Manajemen Kualitas

A.  Sejarah Manajemen Kualitas
Dalam perkembangan ilmu manajemen terjadi berbagai perkembangan yang dianggap fundamental dalam perkembangan ilmu manajemen. Dari manejemen yang memfokuskan pada para tenaga kerja hingga saat ini yang berbasis sitem informasi. Untuk manajemen kualitas bebarapa artikel menyatakan bahwa telah dirintis pada saat manajemen berdasarkan pendekatan ilmiah. Dari perkembangan manajemen ilmiah tersebut ada beberapa nama yang membuat konsep-konsep kualitas hingga berkembang seperti sekarang ini. Nama yang dianggap berjasa dalam perkembangan manajemen kualitas diantaranya:
-          F.W.Taylor yang dikenal sebagai bapak manajemen ilmiah (The Father of Scientific Management)adalah seorang insiyur mengembangkan satu seri konsep yang merupakan dasar dari pembagian kerja (division of work). Analisis dengan pendekatan gerak dan waktu (time and motion study) untuk pekerjaan manual, Taylor memisahkan perencanaan dari perbaikan kerja dan dengan demikian memisahkan pekerjaan dari tanggung jawab untuk memperbaiki kerja. Taylor dianggap sebagai salah satu pemegang kunci dalam membuat dasar manajemen kualitas.

-            Edward DemingLahir tahun 1900 dan mendapat Ph. D pada 1972 sangat menyadari bahwa ia telah memberikan pelajaran tentang pengendalian mutu secara statistik kepada para insinyur bukan kepada para manajer yang mempunyai wewenang untuk memutuskan. Menurutnya : “Quality is not determined on the shop floor but in the executive suite”.
-            Prof. J.M Juran mengunjungi Jepang pada tahun 1945. Di Jepang Juran membantu pimpinan Jepang di dalam menstrukturisasi industri sehingga mampu mengekspor produk ke pasar dunia. Ia membantu Jepang untuk mempraktekkan konsep mutu dan alat-alat yang dirancang untuk pabrik ke dalam suatu seri konsep yang menjadi dasar bagi suatu “management process” yang terpadu. Juran mendemonstrasikan tiga proses manajerial untuk mengelola keuangan suatu organisasi yang dikenal dengan trilogy Juran yaitu, perencanaan kualitas(quality planning), pengendalian kualitas (quality control) dan peningkatan kualitas (quality improvement).
Pada tahun 1920, teori statistik mulai diaplikasikan secara efektif kedalam quality control dan pada 1924 Shewhart membuat sketsa pertama modern control chart. Setelah itu, karyanya dikembangkan oleh Deming dan karya-karya dari Shewhart, Deming, Dodge dan Romig-lah yang sekarang lebih dikenal dengan teori statistical process control (SPC). Namun, hingga akhir 40-an teknik ini hanya sedikit digunakan oleh perusahaan manufaktur. Saat itu, perindustrian Jepang sedang hancur dan memiliki reputasi akan barang murah imitasi dan angkatan kerja yang buta huruf. Jepang menyadari hal ini dan berusaha membenahinya dengan pertolongan para pakar kualitas yaitu Juran, Deming dan Feigenbaum. Kemudianpada awal 1950, praktek manajemen kualitas berkembang dengan sangat cepat di perusahaan-perusahaan Jepang dan menjadi suatu tema utama dalam filosofi manajemen Jepang, sehingga pada 1960, manajemen kualitas dan kontrol akan kualitas telah menjadi suatu yang membudaya secara nasional.

B.  Pengertian Manajemen Kualitas
Berbagai pengertian mengenai kualitas telah dituliskan oleh para ahli, namun secara sederhana kualitas adalah kesesuaian produk dengan kebutuhan. Pada kesempatan ini saya akan memberikan beberapa definisi kualitas menurut para ahli secara lengkap sebagai berikut:
-          Definisi konvensional menurut Gasperz ( 1997, 4) kualitas mengambarkan karakteristik langsung dari produk seperti: performansi (performance), keadanlan (reability), mudah dalam penggunaan (ease of use), estetika (estetics), dan sebagainya.
-          Definisi strategik menurut Gasperz (1997,4)  kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan (meet the needs of costumers).
-          Kualitas menurut ISO 8402 (Quality Vocabulary) yang dikutip dalam buku Gasperz (1997,5) didefinisikan sebagai totalitas dari karakteristik suatu produk yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dispesifikasikan atau diterapkan.
Definisi-definisi tersebut merupakan definsi-definisi dasar dari kualitas. Manajemen kualitas sendiri mempunyai definisi yang berbeda dengan definisi kualitas. Beberapa definisi manajemen kualitas adalah sebagai berikut:
-          Manajemen kualitas atau manajemen kualitas mutu terpadu (Total Quality Management) didefinisikan sebagai suatu cara meningkatkan perfomansi secara terus-menerus  (continuous performance improvement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional  dari suatu organisasi, dengan menggnakan sumber daya manusia  dan modal yang tersedia. (Gaspers, 1997, 5)
-           Prof. Juran mendefinisikan manajemen kualitas yang dikutip dalam buku Gasperz (1997,5)  mengatakan bahwa manajemen kualitas sebagi kumpulan aktivitas yang berkaitan dengan kualitas tertentu yang memiliki karakteristik:
1.      Kualitas menjadi bagian dari setiap agenda manajemen atas.
2.      Sasaran kualitas dimasukan dalam rencana bisnis,
3.      Jangkauan sasaran diturunkan dari benchmarking,
4.      Sasaran disebarkan ke tingkat yang mengambil tindakan, pelatihan dilaksanakan pada semua tingkat,
5.      Pengukuran ditetapkan seluruhnya
6.      Manajer atas secara teratur meninjau kembali kemajuan dibandingkan dengan sasaran,
7.      Perhargaan diberikan untuk performansi terbaik
8.      Sistem imbalan (reward) diperbaiki.
  1. Konsep  Baru Manajemen Kualitas
Saat ini telah berkembang sebuah konsep mengenai Focused Quality Management yang digulirkan oleh Harvey K. Brelin, sebenarnya hal tersebut bukanlah sebuah konsep yang baru. Konsep ini berfungsi sebagai evaluasi atas konsep Total Quality Management dan mencoba memberikan solusi bagaimana agar konsep Manajemen mutu yang telah diterapkan perusahaan dapat berjalan dan mengidentifikasikan kesalahan.

Menurut Harvey K. Brelin dkk (1997), Focused QualityManagement merupakan metode untuk menerapkan berbagai upaya peningkatan mutu secara terarah, sejalan dengan strategi bisnis, untuk mencapai sasaran yag ditetapkan. Upaya ini dijalankan dengan melakukan peningkatan mutu pada proses kunci yang memiliki dampak terbesar pada pencapaian sasaran strategis organisasi.

Menurut Harvey K. Brelin, dalam Focused Quality Management ada 4 langkah yang harus dilaksanakan, yaitu;

1. Persiapan
Pada tahapan pertama proses kunci diidentifikasi dan penilaian dilakukan untuk menentukan di mana perusahaan berada dan ke mana perusahaan akan pergi. Fase ini adalah fase pertama dalam proses pemfokusan, proses ini memnbutuhkan sebuah komitmen yang nyata dari manajemen karena biasanya organisasi harus mengubah pemikiran dan meletakkan kepuasan pelanggan menjadi prioritas utama. Manajemen puncak memiliki peran besar untuk menetapkan tujuan dan menggiring seluruh organisasi menjadikan fokus pada peningkatan mutu guna mencapai tujuan bisnis perusahaan.

2. Perencanaan
Tahapan ini adalah langkah di mana rencana yang nyata dibuat untuk memperbaiki proses bisnis kunci dan organisasi secara keseluruhan. Rencana mutu strategis mempunyai dua komponen; rencana perbaikan proses sehingga proses kuni yang penting bagi strategi perusahaan dan pelanggan dapat diperbaiki, dan suatu rencana perbaikan organisasi, sehingga organisasi mutu yang terfokus ke masa depan dapat mengambil bentuk

 3. Penyebaran
Pada tahapan ini, yang harus dilakukan adalah melaksanakan rencana mutu strategis dan memberdayakan tim perbaikan proses dengan memberikan sasaran yang jelas akan membangun kemampuan organisasi untuk memperbaiki diri sendiri demi memenuhi harapan pelanggan dan memungkinkannya untuk mengukur kemajuan dan menentukan sukses atau kebutuhan akan perbaikan lebih jauh. Tim melaksanakan aktivitas untuk memperbaiki proses bisnis kunci yang sebelumnya telah diidentifikasi. Tim perbaikan proses dengan resmi dilembagakan dan dilatih dengan tujuan untuk memperbaiki, mengurangi kesalahan, mengurangi keterlambatan, mengurangi cacat, efisiensi biaya, dan meningkaatkan kepuasan pelanggan.

4. Pemantapan
Sebuah transisi yang akan menenjadikan Manajemen mutu terfokus sebagai cara menjalankan bisnis setiap hari dan pola hidup organisasi. Semua karyawan tanpa kecuali harus mempunyai kompetensi yang sesuai dan manajer madya harus diberikan wewenang penuh untuk melakukan perbaikan proses, perbaikan sistem dan prosedur, evaluasi, dan berbagai tindakan yang dianggap perlu dengan kepercayaan dan kewenangan penuh. Jika organisasi melakukannya dengan baik, maka kondisi ini akan memotivasi seluruh karyawan yang ada diberbagai lini untuk mengikuti dan menjalankan konsep Manajemen mutu.

Langkah terakhir dalam proses pemantapan adalah upaya pelatihan, pemotivasian, dan evaluasi berkala atas prose pelaksanaan Manajemen mutu perlu dilaksanakan secara konsisten dan berkelanjutan. Pemberian reward and punishment dalam kerangka pelaksanaan program terkait Manajemen mutu perlu dilakukan untuk memotivasi setiap orang dalam organisasi untuk selalu disiplin dan berusaha mencapai target kerja mereka, baik secara individu maupun kelompok.

Tujuan dari keempat proses tersebut adalah perbaikan proses dihubungkan dengan tujuan bisnis strategis, fokus adalah pada perbaikan proses bisnis dan bukan mengejar proyek yang tak terpadu, manajer puncak dan manajer madya menyadari bahwa mempunyai komitmen dan memanajemeni proses perbaikan, usaha dilakukan atas dasar hal-hal yang telah dicapai dan seluruh organisasi merasa bertanggungjawab atas proses perbaikan.

Sumber:

-       Elqorni, Ahmad (2008) “MANAJEMEN MUTU TERPADU (TOTAL QUALITY MANAGEMENT)–1 “(http://elqorni.wordpress.com/2008/04/24/manajemen-mutu-terpadu-total-quality-management/)
-       Gasperz, Vincent (1997) “ Manajemen Kualitas: Penerapan Konsep-Konsep Kualitas Dalam Manajemen Bisnis Total”  PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

-       Heizer, Jay dan Render, Barry (2005)“ Manajemen Opersi (edisi ketujuh)” , Salemba Empat, Jakarta

-       http://www.managementfile.com/journal.php?sub=journal&awal=20&page=quality&id=3

 ________________________


    1. Pengertian Manajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management)
    Berbagai pengertian mengenai mutu telah dituliskan oleh para ahli, namun secara sederhana mutu adalah kesesuaian produk dengan kebutuhan. Berikut ini pengertian mutu dan TQM menurut para ahli secara lengkap sebagai berikut:
    -     Definisi konvensional menurut Gasperz ( 1997, 4) mutu mengambarkan karakteristik langsung dari produk seperti: performansi (performance), keandalan (reability), mudah dalam penggunaan (ease of use), estetika (estetics), dan sebagainya.
    -     Definisi strategik menurut Gasperz (1997,4)  mutu adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan (meet the needs of costumers).
    -     Mutu menurut ISO 8402 (Quality Vocabulary) yang dikutip dalam buku Gasperz (1997,5) didefinisikan sebagai totalitas dari karakteristik suatu produk yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dispesifikasikan atau diterapkan.
    Definisi-definisi tersebut merupakan definsi-definisi dasar dari mutu. Manajemen mutu terpadu sendiri mempunyai definisi yang berbeda dengan definisi mutu. Beberapa definisi manajemen mutu terpadu adalah sebagai berikut:
    -     Manajemen mutu atau manajemen mutu mutu terpadu (Total Quality Management) didefinisikan sebagai suatu cara meningkatkan perfomansi secara terus-menerus  (continuous performance improvement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional  dari suatu organisasi, dengan menggnakan sumber daya manusia  dan modal yang tersedia. (Gaspers, 1997, 5)
    -      Prof. Juran mendefinisikan manajemen mutu yang dikutip dalam buku Gasperz (1997,5)  mengatakan bahwa manajemen mutu sebagi kumpulan aktivitas yang berkaitan dengan mutu tertentu yang memiliki karakteristik:
    1. Mutu menjadi bagian dari setiap agenda manajemen atas.
    2. Sasaran mutu dimasukan dalam rencana bisnis,
    3. Jangkauan sasaran diturunkan dari benchmarking,
    4. Sasaran disebarkan ke tingkat yang mengambil tindakan, pelatihan dilaksanakan pada semua tingkat,
    5. Pengukuran ditetapkan seluruhnya
    6. Manajer atas secara teratur meninjau kembali kemajuan dibandingkan dengan sasaran,
    7. Perhargaan diberikan untuk performansi terbaik
    8. Sistem imbalan (reward) diperbaiki.
2.Delapan Dimensi Mutu
Dalam hal mutu dianggap layak, maka diperlukan suatu produk untuk dapat memenuhi dimensi-dimensi berikut ini:
  1. Performance: seberapa cocok produk tersebut digunakan sesuai dengan fungsi pemenuhan kebutuhannya.
  2. Features: konten dari produk yang membedakan dari produk lain.
  3. Reability: seberapa lama produk tersebut dapat bertahan dari kerusakan.
  4. Conformance: sejauh mana produk dapat dikembangkan oleh konsumen itu sendiri.
  5. Durability: seberapa lama produk dapat digunakan sampai benar-benar tidak dapat digunakan lagi.
  6. Serviceability, speed, cost, ease to repair: ada atau tidaknya service centre dan seberapa banyak biaya yng dikeluarkan konsumen untuk itu.
  7. Esthetic: niali keindahan dari produk termasuk dalam definisi ini adalah tampilan fisik produk
  8. Perceived quality: kesan yang membekas dari produk dalam pemikiran konsumen (Natha, 2008, 4)
3. Kegagalan TQM
Jordan (2008, 19) menjelaskan kegagalan dalam TQM diperusahaan, kegagalan tersebut disebabkan oleh beberapa hal berikut ini:
  1. Proses dalam TQM menghabiskan banyak waktu dan menuntut kesabaran yang tinggi dari perusahaan.
  2. Budaya organisasi sering kali berbenturan dengan prinsip-prinsip TQM, seperti halnya terjadi di negara Uni Emirat Arab dimana organisasi memfokuskan pada top down management sehingga ide-ide bawahan sering sekali diabaikan. Disisi lain TQM menuntut adanya kolaborasi semua pihak dalam organisasi baik dari level yang paling rendah hingga level tertinggi diperusahaan.
  3. TQM cenderung dalam memecahkan masalah-masalah perusahaan secara cepat, pihak manajemen berpikir bahwa TQM merupakan proses yang sederhana dan menerapkannya tanpa pemikiran sebelumnya.
_____________________________________________________________




Just In Time (JIT)


Just In Time (JIT) adalah suatu keseluruhan filosofi operasi manajemen dimana segenap sumber daya, termasuk bahan baku dan suku cadang, personalia, dan fasilitas dipakai sebatas dibutuhkan. Semua bahan baku dan komponen sebaiknya tiba tepat waktu di lokasi kerja pada saat dibutuhkan. Produk sebaiknya diselesaikan dan tersedia tepat waktu bagi pelanggan disaat pelanggan menginginkannya bukan berdasarkan persediaan yang diantisipasi. Hal ini bertujuan untuk meminimalkan persediaan yang ada sehingga dapat mengeliminasikan biaya penyimpanan serta sekaligus mengeliminasi perlindungan atas kesalahan produksi dan ketidakseimbangan yang diberikan oleh persediaan sehingga dapat mengurangi pemborosan. JIT juga memperhatikan keseluruhan system produksi sehingga komponen yang bebas dari cacat dapat disediakan untuk tingkat produksi selanjutnya tepat ketika mereka dibutuhkan, tidak terlambat dan tidak terlalu cepat.
Just-In-Time (JIT) merupakan salah satu konsep yang mendukung manajemen biaya guna mengantisipasi perubahan yang terjadi di lingkungan industri sebagai akibat kemajuan teknologi dan otomatisasi. Dalam konsep JIT dilakukan eliminasi biaya melalui eliminasi jumlah persediaan (persediaan = 0 atau zero stock). Eliminasi jumlah persediaan ini secara otomatis menghilangkan biaya penyimpanan dan transportasi sekaligus mengakibatkan penurunan tingkat toleransi terhadap tingkat kesalahan produk. Penerapan JIT menuntut adanya kualitas kerja yang tinggi dan beban kerja yang seimbang (balance capacity) untuk menghindari terjadinya penundaan (delay) produk maupun kekecewaan konsumen. Dengan demikian, yang dimaksud denga sistem JIT adalah usaha-usaha untuk meniadakan pemborosan dalam segala bidang produksi seperti uang, bahan baku, suku cadang atau komponen, waktu produksi dan sebagainya sehingga dapat meghasilkan dan mengurumkan produk jadi tepat waktu untuk dijual.
Sistem JIT telah lama diterapkan di Jepang sejak tahun 1960-an, terutama oleh Toyota Motor Company, dan secara modern dipopulerkan oleh Taiichi Ohno Wakil Presiden Direktur Toyota Motor Company pada pertangahan tahun 1970-an. Sistem JIT diterapkan dengan memanfaatkan kemampuan para pemasok bahan baku dan suku cadang atau komponen yang dapat memenuhi kebutuhan industri secara tepat waktu (just-in-time). Penerapan sistem JIT ini bertujuan untuk: (1) meniadakan persediaan (zero inventories), (2) meniadakan produk cacat (zero defects), dan (3) meniadakan gangguan pada skedul produksi (zero schedule interuptions)

JIT dan Waktu Proses

Dalam sistem JIT dikenal adanya istilah waktu yang dibutuhkan suatu produk untuk melewati semua proses produksi atau sering disebut dengan troughout time. Troughout time terdiri dari empat komponen waktu yang terbagi menjadi dua jenis kegiatan, yaitu kegiatan penambah nilai (value added activities) dan kegiatan bukan penambah nilai (non value added activities). Untuk dapat menghasilkan produk dengan harga yang murah, maka harus dilakukan perbaikan-perbaikan terhadap kegiatan penambah nilai dan selalu berusaha untuk menghilangkan kegiatan-kegiatan bukan penambah nilai. Proses produksi yang ideal akan menghasilkan troughout time yang sama dengan waktu proses produksi yang merupakan kegiatan penambah nilai.

Sistem JIT sering pula diidentikkan dengan usaha untuk menghilangkan pemborosan produksi (waste products) yang disebabkan oleh produk cacat maupun produk rusak, sehingga sistem JIT merupakan bagian penting dari Total Quality Management (TQM). Disamping itu, sistem JIT diidentikkan pula dengan sistem persediaan tepat waktu dan sistem produksi tepat waktu.
Kondisi yang dipersyaratkan untuk menerapkan JIT dalam sistem sediaan tepat waktu antara lain adalah: (1) waktu dan biaya pemesanan maupun biaya set-up harus sekecil mungkin, (2) jumlah pemesanan mendekati satu, (3) tenggang waktu (lead time) harus seminimum mungkin, (4) beban antar lini (bagian) atau mesin harus seimbang, (5) tidak ada waktu tunda akibat kualitas produk yang rendah, ketiadaan suplay bahan, kerusakan mesin, perubahan desain dan sebagainya.
Sistem JIT bukanlah suatu konsep perubahan yang radikal, tetapi penerapannya harus dilakukan secara bertahap dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1.    Lakukan pengurangan jumlah persediaan sedikit demi sedikit hingga “timbul masalah”
2.    Setelah masalah diketahui, tingkat persediaan ditambah untuk menetralisir kejutan yang terjadi dan menjaga sistem agar sistem beroperasi dengan lancar
3.    Masalah yang timbul dianalisis dan dicari pemecahannya
4.    Setelah masalah hilang, persediaan dikurangi lagi hingga “timbul masalah baru”
5.    Langkah-langkah kedua hingga keempat diulangi lagi hingga ditemukan tingkat persediaan minimum.

Langkah-langkah tersebut di atas, sangat tepat dalam usaha meningkatkan kualitas manajemen persediaan bahan dengan menggunakan sistem JIT. Jika sistem JIT diidentikkan dengan sistem produksi tepat waktu. Penerapan sistem JIT dapat dilakukan dengan proses sebagai berikut:
1.    Dimulai dengan menjadwalkan kembali produksi ke dalam lot lebih kecil.
2.    Meningkatkan pengendalian kualitas dengan menerapkan TQC (total quality control), agar pekerja lebih menyadari peningkatan kualitas.
3.    Meningkatkan faktor-faktor produksi termasuk pekerjanya. Pada umumnya penerapan JIT disertai dengan melibatkan karyawan dalam pengambilan keputusan.
4.    Menerapkan teknik produksi dalam “cell” untuk mempersingkat jarak perjalanan bahan baku maupun komponen lainnya dari satu mesin/tahap produksi ke mesin/tahap produksi yang lain.

Keuntungan penggunaan sistem kanban (JIT) adalah: (1) waktu persiapan (set-up) pendek, (2) ukuran lot kecil, (3) tingkat persediaan rendah, (4) arus bahan baku lebih lancar, (5) waktu tenggang (lead time) dapat dikurangi, (6) volume dan produk mudah diganti, dan (7) adanya partisipasi dari karyawan (pekerja) dalam membuat keputusan. Sedangkan kerugian sistem Kanban adalah: (1) pekerja memiliki tanggung jawab yang lebih besar dan hal ini membutuhkan kerjasama antara pekerja dengan manajemen secara baik, (2) skedul sangat ketat dan produksi harus selalu tepat waktu, (3) sistem tidak dapat secara cepat merespon kenaikan volume yang cukup besar, (4) kurang efisien jika untuk memproduksi semua komponen atau pesanan khusus.




Mengapa kita perlu mempelajari Just In Time? Menurut Voss (1992), ada beberapa alasan mengapa kita harus belajar dan memahami Just In Time, yaitu:
1.      Untuk mempelajari kembali bagaimana memenangkan persaingan, terutama dari pesaing semacam perusahaan Jepang. Perusahaan di Jepang merupakan perusahaan yang unggul dalam persaingan terutama disebabkan oleh kemampuan perusahaan tersebut menghilangkan pemborosan.  Perusahaan di Jepang berhasil menghilangkan pemborosan karena memang kondisi alamnya yang serba terbatas. 
2.      Menghindari berbagai kesulitan seperti dalam industri-industri di Amerika. Industri-industri di Amerika biasanya mengalami kesulitan dalam menghemat sumber daya yang ada, karena memang di Amerika sumber daya tersebut tersedia dalam jumlah besar, sehingga Amerika tidak mengenal istilah Just In Time melainkan Just In Case. 
3.      Memperbaiki kualitas produk, produktivitas, dan pelayanan pelanggan.
4.      Dengan menghilangkan berbagai pemborosan yaitu dengan menghilang-kan kegiatan yang tidak perlu maka produktivitas perusahaan akan meningkat.

___________________________________________________________



Comments

Popular posts from this blog

Teori Cuplikan (Sampling)

Salah satu tujuan dalam analisis statistika adalah menjawab pertanyaan desuktif, sesuatu yang dapat kita simpulkan terhadap hasil cuplikan acak, yang sudah kita peroleh dari populasi yang sifat-sifatnya sudah dikenal atau diketahui.
Cuplikan acak adalah cuplikan yang diambil dari sebuah populasi dengan menerapkan prinsip ketika setiap anggota populasi mempunyai kemungkinan yang sama untuk terpilih. Apabila kita sudah memiliki suatu cuplikan acak maka kita mampu membuat pernyataan deduktif; apabila sifat-sifat populasi diketahui maka kita bisa menyatakan sifat-sifat cuplikannya. Pada tingkat yang lebih lanjut, sesudah mampu membuat pernyataan deduktif, diharapkan mampu membuat pernyataan induktif.

Misalkan dikatakan 95% penduduk negara RI yang tinggal di tepi laut, mata pencahariannya adalah nelayan, jika diambil sebuah cuplikan acak dari daerah tepi laut negara RI, pastilah 95% penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan (pernyataan deduktif). Jika situasi di atas dibalik yaitu bi…

KERANGKA DASAR SISTEM-SISTEM MANAJEMEN

Kerangka dasar dari sistem –sistem manajemen merupakan suatu langkah untuk memahami hubungan antara aktivitas-aktivitas manajemen dengan berbagai manfaat yang dapat diperolehnya. Penting sekali memahami kedua macam sistem konseptual dan empiris sebab dengan demikian kita mampu meletakkan dasar yang baik dalam rangka mempelajari pengetahuan Sistem Informasi Manajemen. Sebagai tindak lanjut, kita dapat meletakkan dasar dari klasifikasi dari sistem organisasi dari Sistem Informasi Manajemen.
Mencoba menghubungkan antara Sistem Infoemasi Manajemen dan keputusan makin memperjeles kedudukan dari Sistem Informasi Manajemen dalam organisasi.

Pengertian Sistem Informasi Manajemen

Sistem Informasi Manajemen dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang disusun dengan mempergunakan prosedur-prosedur yang formal, dengan tujuan memberikan informasi yang relevan kepada para manajer baik itu informasi internal maupun informasi eksternal pada seluruh tingkat dan seluruh fungsi organisasi yang bersangkutan, sehingga pengambilan keputusan dapat dilakukan secara efektif.
Sistem informasi yang formal makin dirasakan penting keberadaannya apabila operasi perusahaan bertambah besar dan bertambah rumit.